BUSI


PENGANTAR

Pada kendaraan bermotor terdapat sebuah komponen yang berukuran kecil dan mempunyai peran yang sangat vital. Komponen tersebut adalah sebuah busi.

Busi pada kendaraan berfungsi untuk menghasilkan bunga api listrik yang diperlukan pada proses pembakaran. Penggunaan busi yang tepat pada kendaraan menghasilkan performa mesin yang optimal.

Untuk mengetahui bagaimana sebuah busi bekerja, ada beberapa hal yang perlu diketahui antara lain :

A. Prinsip Kerja Busi
B. Konstruksi Busi
C. Nilai Panas Busi
D. Sistem Kode Busi
E. Mengukur dan Menyetel Celah Busi

ke atas

PRINSIP KERJA

Busi akan meloncatkan bunga api pada saat ada tegangan tinggi yang dihasilkan oleh coil, dikeluarkan di antara center electroda dan ground electroda.

Untuk menyalakan busi dihubungkan dengan sebuah kabel busi.

KONSTRUKSI BUSI

Gambar di bawah ini adalah gambaran detail konstruksi sebuah busi:

ke atas

NILAI PANAS

  • Nilai panas adalah kemampuan meradiasikan sejumlah panas oleh busi.
  • Busi yang meradiasikan panas lebih banyak disebut “busi dingin”. Sebaliknya yang meradiasikan panas sedikit disebut “busi panas”.
  • Busi akan maksimum bila elektroda tengahnya mempunyai temperatur antara 4500C dan 9500C.
  • Batas operasional terendah dari husi disebut self cleaning temperatur. Sedangkan batas tertinggi disebut preignition temperatur.
  • Untuk membedakan antara busi dingin dan busi panas dapat dilihat dari panjang ujung insulator.
  • Busi dingin mempunyai ujung insulator yang lebih pendek sedangkan busi panas ujung insulatornya panjang.

ke atas

SISTEM KODE BUSI

Busi diberi kode dengan huruf dan angka. Sistem kode berbeda antara satu pabrik dengan pabrik pembuat lainnya.

Contoh sistem pengkodean busi dari pabrik NGK dan Denso:

NGK PFR6J-11

P
Platinum tips
F
14-mm thread, 19-mm reach, 5/8″ hex shell
R
Resistor type
6
Heat range (6 is medium, 5 is hotter, 7 is colder)
J
ISO projected insulator nose
-11
1.1-mm (0.043″) spark gap

Denso PK20PR-P11

PK
14-mm thread, 5/8″ hex shell, 19-mm reach, platinum tips
20
Heat range (20 is medium, 16 is hotter, 22 is colder)
P
ISO projected insulator nose
R
Resistor type
-P
Platinum tipped plug for DIS
11
1.1-mm (0.043″) spark gap

ke atas


PENGUKURAN DAN PENYETELAN CELAH BUSI

Pengukuran dan penyetelan celah busi menggunakan alat spark plug gauge. Besarnya celah disesuaikan dengan spesifikasi kendaraan.

Spark Plug Gauge Tipe Pisau:

Penggunaannya dimulai untuk pengukuran jarak elektroda dan pemeriksaan pengapian dari 0.010 hingga 0.045″ (0.254 ke 1.143mm). Enam alat untuk mengukur kawat jarak elektroda, dan 12 mata pisau lurus memeriksa lainnya. Alat ini sudah meliputi alat elektroda double-ended untuk memudahkan penyesuaian. Panjang mata pisau: 3-5/16″. Alat mengukur kawat: 0.025, 0.030, 0.034, 0.035, 0.040, 0.045. Mata pisau: 0.010, 0.012, 0.015, 0.016, 0.017, 0.018, 0.019, 0.020, 0.022, 0.024, 0.025, 0.026.

Spark Plug Gauge Tipe cincin:

Tipe meteran berbentuk cincin yang melingkar dengan mudah mengukur jarak elektroda dari 0.020 hingga 0.100 (0.6 ke 2.4mm).

Celah busi dapat memberikan gambaran kondisi sebuah mesin kendaraan.

ke atas

BERBAGAI KONDISI BUSI:

  1. Busi Overheat
    Busi yang overheat akan kehilangan berglasir atau keliatan berpasir putih halus. Overheat disebabkan antara lain oleh panas yang terlalu tinggi dibanding tingkat kompresinya, saluran pembuangan (knalpot, muffler/silencer) yang kurang lancar, waktu pengapian tidak tepat (terlalu cepat) atau pendinginan mesin kurang memadai.

  2. Busi Berkerak
    Busi berkerak menunjukkan kurangnya kompresi yang menyebabkan sisa-sisa pembakaran menumpuk di kepala busi. Bisa disebabkan antara lain karena bahan bakar kurang bersih atau terlalu banyak timbal (lead). Ini bisa menyebabkan busi memanas hingga bisa terjadi pembakaran sebelum busi memercikan api.

  3. Busi Baik
    Kondisi busi yang baik, dengan campuran dan waktu pengapian yang tepat, pembakaran sempurna (efisien) dan suhu yang tepat.

  4. Busi Berkerak dan Berminyak
    Kerak yang berminyak menunjukkan masalah serius pada sirkulasi oli. Mungkin pada ring piston atau dudukan atau karet pada klep. Lapisan kerak yang berminyak ini konduktif dan bisa menyebabkan pengapian yang tidak tepat.

  5. Busi Aus
    Busi yang sudah aus atau sudah seharusnya diganti mulai bekerja tidak efisien dan mulai terlapisi oleh campuran bahan bakar dan sisa-sisa pembakaran, menyebabkan efisiensi busi berkurang dan gap kepala busi yang membesar membebani sistem pengapian secara berlebihan.

  6. Busi Dengan Campuran Kaya
    Campuran terlalu kaya (banyak bensin, sedikit udara) ditunjukkan oleh lapisan bubuk hitam,menandakan kondisi busi mungkin OK, hanya campurannya yang terlalu kaya. Periksa kembali seting karburator.


ke atas

POSISI MEMASANG BUSI

Memasang busi haruslah tepat pada dudukannya. Posisi yang salah berakibat buruk tak hanya pada busi itu sendiri juga pada lancarnya mesin kendaraan. Perhatikan posisi salah dan benar pemasangan busi berikut ini!

ke atas

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: